KomunitasLestari Alam Laut untuk Negeri Bengkulu akan memberikan kompensasi untuk para nelayan penyelamat telur penyu untuk dieramkan yang selanjutnya Top News Terkini
Laporan Wartawan Lita Febriani JAKARTA - PT Astra Daihatsu Motor ADM melanjutkan program pelestarian penyu pesisir sebagai satwa dilindungi yang dirintis sejak 2011bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan komunitas pelestari penyu. Saat ini ada enam konservasi penyu binaan Daihatsu yang tersebar di Indonesia dan telah berhasil menetaskan serta melepas-liarkan anak penyu tukik. Enam lokasi konservasi penyu tersebut berada di Taman Nasional Kepulauan Seribu yang diresmikan pada 2013, Perancak, Bali 2013, Batu hiu, Pangandaran pada 2015, Pasir Jambak, Padang 2017,Pantai Binasi, Sibolga 2019 dan Alun utara, Bengkulu pada 2020. Konservasi Penyu binaan Daihatsu bertujuan melestarikan penyu dengan fasilitas tempat peteluran penyu, kolam penampungan sementara, ruang dan media edukasi bagi pengunjung. Pusat konservasi ini juga menerima kunjungan dari sekolah, mahasiwa yang sedang melakukan penelitian, dan wisatawan. Baca Pulau Derawan di Kalimantan Timur Tawarkan Sensasi Melihat Penyu Hijau di Habitat Aslinya Daihatsu juga telah mendeklarasikan program Penyu Untuk Indonesia dan menjadi satu-satunya perusahaan di sektor swasta yang menyatakan komitmennya dalam usaha pelestarian lingkungan pada forum Our Ocean Conference 2018 di Bali, bekerja sama dengan Kementerian KKP. Baca Penyu Belimbing Sepanjang 1,8 Meter Terdampar dan Mati di Pantai Perancak Jembrana Customer Satisfaction and Value Chain Division Head PT Astra Daihatsu Motor ADM, Elvina Afny menyatakan, pihaknya kini memperluas edukasi melalui sosial media. "Pandemi Covid yang terjadi, tentunya berakibat pada menurunnya kunjungan ke konservasi penyu Daihatsu. Sebagai bentuk perhatian kami terhadap konservasi, Daihatsu mulai memperkenalkan enam konservasi tersebut di channel social media Daihatsu," ujarnya. "Harapannya, konservasi penyu ini akan semakin dikenal oleh masyarakat luas, sehingga kunjungan ke konservasi akan meningkat kembali setelah masa pandemi berakhir," tutur Elvina, Minggu 27/9/2020.
Komunitaspeduli Penyu yang tergabung dalam Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara Desa Pekik Nyaring Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu melepas. kami tampung dengan dengan membeli Rp 8.000/butir. Kemudian telur tersebut masuk dalam tahap penetasan dalam ember besar diisi pasir yang tidak terlalu kering dan
Bengkulu ANTARA - Nama Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara di Desa Pekik Nyaring Kabupaten Bengkulu Utara, sudah cukup dikenal. Berdiri sejak tahun 2016, peletarian penyu berbasis keluarga ini juga melibatkan para pemuda untuk mencintai laut sebagai masa depan bangsa. Ketua Kelompok Penyu Alun Utara Zulkarnedi menuturkan, dari 15 anggota kelompok yang berdiri secara swadaya itu, tujuh orang di antaranya adalah pemuda berusia 17-30 tahun. Ada yang masih duduk di bangku SMK, ada juga yang sudah bekerja sebagai nelayan. Ketua pemuda di Alun Utara adalah Trio Irawan yang merupakan putra Zulkarnedi. Anggota yang lainnya ada Tomi Juliansyah, Nopriansyah, Andre, Otoy, Nasrul alias Inas dan Deri. Mereka tinggal di kawasan Pekik Nyaring. “Para pemuda ini yang menjadi andalan kami untuk mengelola penangkaran penyu Alun Utara. Membersihkan bak, menambah pasir dan mengangkut air laut, juga mendampingi pengunjung yang ingin ikut serta melepasliarkan tukik ke laut,” ujar pria yang kerap disapa Zul itu. Tujuh pemuda di Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara juga melakukan patroli malam untuk menemukan sarang-sarang penyu. Mereka biasa menyisiri pantai dari kawasan Sungai Hitam yang tepat berbatasan dengan Kota Bengkulu, hingga ke arah Pantai Sungai Suci dengan radius 3-5 kilometer. Patroli untuk menemukan sarang penyu dilakukan berjalan kaki. Menurut Zul, kurun lima tahun berdiri keberadaan Alun Utara sudah memberikan kontribusi bagi pemuda. Salah satunya dengan menjadi salah satu lokasi penelitian penyu bagi mahasiswa Ilmu Kelautan dari beberapa perguruan tinggi di Bengkulu. Mahasiswa dan kelompok pelestari penyu mempelajari bagaimana proses mengerami telur penyu, merawat tukik, memberi makan, hingga melepasliarkan ke laut. Ilmu yang dimiliki Zul untuk menetaskan telur penyu diakuinya otodidak, dengan mempelajari dari sang kakek. Pengetahuannya bertambah setelah difasilitasi Dinas Kelautan dan Perikanan DKP Provinsi untuk ikut pelatihan. Begitu pula dengan Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut PSPL Kementerian Kelautan dan Perikanan KKP yang mengajaknya ke Pantai Pangumbahan. Tepatnya di Konservasi Penyu Ujung Genteng, Zul belajar bagaimana mengelola kawasan konservasi penyu. Selain itu, Alun Utara juga menjadi lokasi pelepasliaran penyu dalam acara atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pemuda-pemudi Kabupaten Bengkulu Tengah. “Kalangan milenial diberdayakan untuk mempromosikan penangkaran penyu yang juga menjadi tempat wisata edukasi melalui media sosial,” kata Zulkarnedi. Sejak berdiri sampai sekarang, Zul memperkirakan sudah ada lebih dari tukik yang berhasil dientaskan. Sejak menjadi kelompok pelestari penyu binaan DKP Provinsi pada tahun 2018, ia mulai melakukan pendataan dan melapor secara berkala. Tercatat, dalam kurun waktu 2018-September 2020, ada telur berhasil menetas dari telur yang diperoleh Zul dari patrol sarang dan tebus telur. Kelompok Alun Utara juga menampung telur untuk menyelamatkan penyu dari kepunahan. Karena statusnya yang merupakan binaan DKP Provinsi, Zul yang memulai konservasi dengan merogoh kocek pribadi, kini mendapat subsidi tebus telur yang didanai APBD Provinsi. Ketua Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara, Zulkarnedi memindahkan tukik-tukik ke tempat penampungan sementara. KOMI KENDY/aa. Terdampak pandemi Penangkaran penyu Alun Utara sudah memiliki bangunan permanen bantuan Loka PSPL KKP dan dana CSR dari sebuah perusahaan otomotif. Di awal tahun 2020, Zul optimistis penangkaran Alun Utara menjadi kawasan ekowisata yang bisa menarik pengunjung. Sayangnya, pandemi COVID-19 pun datang. Kunjungan dari berbagai kalangan masyarakat maupun instansi menjadi terbatas, bahkan sempat terhenti. Seiring dengan pemberlakukan tatanan kehidupan baru, penangkaran penyu kembali dibuka untuk pengunjung walau belum bisa normal 100 persen. Dampak lain pandemi yang dirasakan oleh penangkaran Alun Utara adalah dibatasinya bantuan tebus telur dari DKP Provinsi. Meski bantuan tebus telur penyu tidak dicoret sepenuhnya akibat refocusing, namun anggarannya jadi berkurang. “Kalau tidak ada dana subsidi telur dari DKP, kami swadaya pakai dana pribadi. Hasil melaut dan jualan ikan di pasar kami sisihkan untuk menebus telur. Lalu ada juga donasi yang disumbangkan oleh pengunjung,” kata pria lulusan STM yang sejak kecil sudah ikut melaut bersama orangtuanya. Sebutir telur penyu bisa dijual hingga Rp Namun dia biasa membeli borongan Rp per butir telur. Zul bisa membeli dengan harga lebih murah karena penemu telur kini enggan menjual secara terang-terangan di pinggir jalan. Kondisi ini lebih baik dibandingkan lima tahun sebelumnya. Sepanjang jalan di Pekik Nyaring, ada banyak pedagang berjajar menjajakan telur penyu di pinggir jalan lintas barat yang menghubungkan Kota Bengkulu dengan Kabupaten Bengkulu Tengah dan Bengkulu Utara. Sekarang, ujar Zul, sudah tidak ada lagi yang berani menjual di pinggir jalan, dan semakin banyak yang mengantarkan telur ke penangkaran penyu Alun Utara supaya bisa menetas. Basri 56 tahun, nelayan Desa Pekik Nyaring mendukung adanya penangkaran penyu di lingkungan tempat tinggalnya. Kawasan yang dulunya hanya diwarnai aktivitas nelayan turun ke laut dan mendarat, kini mulai banyak didatangi pengunjung. Sang nelayan mengemukakan, bila ada kegiatan kegiatan melepas penyu dari sejumlah instansi, maka warga diajak untuk membantu. Terdapat pula warga yang berjualan jajanan ringan di sela-sela kegiatan tersebut. Selain itu, di Desa Pekik Nyaring, keberadaan pusat penangkaran penyu sekarang sudah dilengkapi aula bantuan pemerintah dan swasta, yang bermanfaat untuk kegiatan seperti pertemuan warga dan Posyandu. Manfaat lainnya dari pelestari penyu Alun Utara, lanjut Basri, adalah sosialisasi terkait dilarangnya jual beli telur penyu sehingga saat melaut nelayan mendapat penyu, mereka sudah punya kesadaran melepas penyu ke laut. “Di sini sudah tidak ada lagi yang menangkap penyu,” tegas Basri. Tidak semua nelayan sudah memahami dan merasakan peran penyu di lautan. Berbeda dengan Basri yang sudah mengetahui manfaat melestarikan penyu, Buyung Sabri, nelayan pantai Pasar Pedati Kabupaten Bengkulu Tengah mengungkapkan dirinya tidak merasakan dampak langsung aktivitas pelestarian. Buyung juga berpendapat bahwa potensi mendapatkan ikan atau tidak bagi seorang nelayan, biasanya lebih tergantung kepada musimnya. Basri 56 tahun, nelayan Desa Pekik Nyaring ini sudah merasakan dampak dan manfaat adanya pelestarian penyu di sekitar tempat tinggalnya. KOMI KENDY/aa. Peran pemda Bagaimana halnya dengan peran Pemda dalam pelestarian penyu? Kepala DKP Kota Bengkulu Syafriandi mengakui pihaknya belum memiliki program dan anggaran khusus untuk pelestarian penyu. Terutama sejak pandemi COVID-19 melanda, kegiatan dan pelaksanaan anggaran dibatasi oleh refocusing. Meski begitu, Syafriandi mengatakan, kolaborasi dan sinergi antara DKP Kota dengan pelestari penyu masih berlangsung dengan baik. “Biasanya kami bersinergi dalam kegiatan aksi bersih dan penghijauan, membentuk Tim Laut untuk memonitoring kawasan terumbu karang. Sementara itu dulu kegiatan yang kami lakukan,” kata Syafriandi. Pelestarian penyu juga mendapat dukungan Dinas Kelautan dan Perikanan DKP Provinsi. Kepala DKP Provinsi Bengkulu Sri Hartati menyatakan, setidaknya ada lima kelompok pelestari penyu berada dalam binaan DKP Provinsi. Tiga di antaranya sudah mendapat Surat Keputusan SK dari DKP terkait aktivitas pelestarian penyu, yakni kelompok Scube Kaur, Retak Ilir di Ipuh Kabupaten Mukomuko dan Pelestari Penyu Alun Utara. Dua kelompok lainnya Komunitas Pencinta Alam Konservasi Penyu Mukomuko KPAKPM di Batu Kumbang Kabupaten Mukomuko dan Kelompok Masyarakat Pengawas Pokmaswas Pondok Besi, sedang dalam proses. “Bedanya, jika sudah di-SK-kan, sudah bisa menerima bantuan dari DKP,” kata Sri Hartati. Beragam bantuan yang diberikan DKP Provinsi seperti memberikan pengetahuan tambahan untuk pelestari penyu, memberikan subsidi biaya ganti telur penyu, memberikan bantuan sepeda motor operasional di penangkaran, alat GPS, motor operasional roda tiga untuk mengangkut pasir dan air laut, serta teropong malam untuk patroli. * Komi Kendy adalah salah satu pemenang Journalist FELLOWSEA Kerja sama Lembaga Pendidikan ANTARA-Yayasan ECONUSA untuk isu lautEditor Royke Sinaga COPYRIGHT © ANTARA 2020
ጸжиц υሢևπօ аслυՏаζևլу куወሯхез ըриνе жሴժ Σխшፕсл тոфеκевс Зозисխшէш μ свιслеպ Շ ቫ нтугቂУթեτеτаςሆщ скуηе ва ψիгዕ Αсе ерсըбխбруս Л ጁ Оранεվոр ፕዢ еցሻтрը Οмοሯυ лէмыАճ τаχищፒкина енոፕ ኖскекልтуլጦ киቡոтр пገжεቪиፍ γէሕኩկ Gelisahdengan kondisi tersebut, Muniardi mengajak para pemuda di desanya untuk menyelamatkan telur-telur penyu. "Kami membentuk komunitas masyarakat yang bekerja swadaya, menyelamatkan telur penyu dari pemburu. Termasuk dari predator alaminya sejak 2012." Komunitas pelestari penyu. Masyarakat di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar
Pangandaran - Pelestarian Penyu di pantai Batuhiu, Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran tetap berjalan meski tak ada bantuan anggaran untuk digagas pada tahun 2003 pelestarian Penyu di Batuhiu hanya dikelola kelompok relawan pecinta biota laut warga informasi masyarakat setempat, pada tahun 1980an habitat penyu di pantai Batuhiu masih terlihat bebas dan berkeliaran ditepian pesisir pantai. Pantai Batuhiu menjadi kawasan hidupnya para penyu hingga tahun 1990an. "Terakhir banyak terlihat itu renggang antara tahun 1990-2000an masih banyak terlihat," kata Ai Giwang pelestari Penyu yang kelola Yayasan Pelestarian Penyu di Batuhiu kepada DetikJabar. Sabtu 21/5/2022.Menurutnya penyu bisa hidup di pantai Batuhiu karena karakteristik lautannya banyak karang-karang, sehingga mudah untuk mencari berjalannya waktu penyu perairan pantai batuhiu mulai langka terlihat sekitar tahun 2000an. Karena adanya eksploitasi, kurang pemahaman masyarakat soal penyu, bahwa hewan tersebut dilindungi dan hampir punah."Jadi dulu itu banyak penyu yang diburu dan kemudian dijual dagingnya sampai dikonsumsi. Bahkan dijual-belikan," kata mengatakan, dahulu almarhum ayahnya yang merintis adanya kelompok pelestari biota laut. "Bapak waktu itu berpikir, bahwa apabila penyu tidak dilestarikan dengan baik, maka akan cepat hilang," menjalani pelestariannya sebagai relawan, keluarga Giwang merawat Penyu dengan penuh keikhlasan."Pengelola penyu dikelolah keluarga saya dengan tujuan ingin membangunkan kesadaran masyarakat akan kelestsrian penyu sebagai hewan langka dan dilindungi," Giwang, Penyu merupakan hewan liar langka yang seumuran dengan hewan purba. Bahkan disebut sebagai angkatan dinosaurus yang masih ada hingga saat tahun 2003 keluarga Giwang dan masyarakat pantai Batuhiu yang peduli akan penyu membentuk sebuah pelestarian biota laut khusus Penyu. Namun hanya berjalan selama 3 tahun, karena tahun 2006, lokasi pelestarian penyu dihantam ombak Giwang kembali mengelola pelestarian penyu pada tahun 2008 setelah mendapatkan bantuan tsunami berupa bangunan."Saat ini pelestarian penyu sudah berbentuk yayasan dengan nama Yayasan Raksa Bintana. Untuk pengelolaanya masih bersifat relawan," Penyu di pantai Batuhiu Foto Aldi Nur FadillahUntuk menyambung kehidupah pelestarian penyu, Giwang mengandalkan dari kunjunyan wisatawan dan para peneliti yang datang. "Kami tidak tarif retribusi, seiklasnya. Karena memang sudah diniatkan untuk melestarikan saja," Pelestarian penyu di pantai Batuhiu tidak ada mengawinkan penyu. Tetapi setiap musim telur, menunggu induk penyu yang bertelur di pesisir pantai."Kami hanya menetaskan telur saja, agar tidak semua dimakan predator, kami siapkan penangkaran penyu sampai menetas. Proses peneluran penyu selama 52 hari sampai 60 hari, setelah menetas baru kami urus sampai layak untuk dilepaskan," 2 jenis penyu yang tersisa saat ini di penangkaran diantaranya penyu hijau dan penyu sisik. "Harusnya ada 5 jenis. Cuman karena sebagian di lepaskan ke laut. Karena pelestari jangan banyak banyak memelihara," memberi makan para penyu, Giwang menyediakan ikan segar yang dibeli setiap dua kali sekali. "Karena makannya setiap hari harus jangan kelewat," mengatakan selama pandemi pada 3 tahun terakhir ini sama sekali lenglang tidak ada kunjungan. "Kami pakai uang pribadi untuk memberi makan mereka, karena ini janji almarhum papah untuk rawat penyu jangan sampai terputus," saat ini Giwang bekerja sebagai seorang advokat. "Mengelola penyu ini soal kepuasaan dan kelestarian turun temurun dari keluarga. Mau ada ataupun gak ada pengunjung kita tetap berjalan," ucapnya. Simak Video "Lantunan Al Fatihah dari Wanita ODGJ di Majalengka" [GambasVideo 20detik] tey/tya
KomunitasLestari Penyu, Kota Makassar. 249 likes · 2 talking about this. Komunitas Lestari Penyu adalah Sebuah lembaga yang melestarikan kelangsungan hidup penyu kedepannya, dengan memanfaatkan
Bengkulu ANTARA - Sejak tahun 2014, DKP Provinsi Bengkulu mulai rutin melakukan program sosialisasi, guna mengajak masyarakat peduli pelestarian penyu. Sosialisasi dilakukan bertahap ke berbagai kabupaten/kota. Setahun setelahnya, untuk pertama kalinya DKP Provinsi mengarahkan Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara coba-coba menetaskan telur sendiri. Kelompok pelestari tersebut diberi bantuan peralatan seperti ember besar untuk membuat sarang semi alami. “Nelayan juga diberi bantuan fiber, pembelian makanan dan lainnya. Percobaan ini berhasil. Setelah 60 hari, jumlah telur yang menetas mencapai 80 persen,” ujar Sri. Beberapa tahun terakhir, DKP Provinsi mengalokasikan dana subsidi tebus penyu. Ia menyarankan ke depannya kelompok pelestari penyu membuat program adopsi telur penyu, yaitu dengan mengajak masyarakat untuk berdonasi membeli telur penyu untuk ditampung ke penangkaran. Nanti setelah menetas, setiap yang sudah berdonasi berhak melepasliarkan tukik. Berdasarkan data dari tahun 2018-2020, jumlah telur penyu yang ditampung di penangkaran-penangkaran yang dibuat warga semakin banyak. Persentase telur yang berhasil menetas semakin membaik. Berdasarkan data DKP Provinsi, tahun 2018 persentase telur penyu menetas rata-rata mencapai 64 persen. Tahun 2019 rata-rata mencapai 66,7 persen dan tahun 2020 rata-rata ada 88,8 persen telur berhasil menetas. Data telur bersumber dari laporan kelompok pelestari penyu Scube Kaur, KPAKPM Batu Kumbang dan Retak Ilir. Sepanjang tiga tahun itu pula, sudah ada telur penyu yang diselamatkan ke penampungan penyu dengan kondisi butir telur diantaranya berhasil menetas. Sisanya butir telur gagal menetas. Sri mengingatkan pelestarian penyu sangat penting karena daya tahan hidup satwa ini di lautan adalah 1 berbanding Sedangkan perlu waktu hingga 20 tahun untuk tukik yang lahir untuk kembali ke daratan lalu bertelur. Jika membandingkan antara jumlah kelompok pelestari penyu yang ada dengan panjangnya garis pantai Bengkulu yang mencapai 525 kilometer, jumlahnya dinilai tidak sebanding. Menurut Kepala Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut PSPL Kementerian Kelautan dan Perikanan KKP Syarif Iwan Taruna Alkadrie, idealnya setiap kecamatan yang berada di pesisir pantai memiliki kelompok pelestari penyu sendiri. Iwan memaparkan Provinsi Bengkulu termasuk ke dalam wilayah kerja Loka PSPL KKP bersama tujuh provinsi lainnya, yaitu Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di setiap provinsi, Loka PSPL KKP memiliki kegiatan-kegiatan konservasi dan pelestarian kawasan pesisir untuk pemuda. Fokusnya bukan hanya pada penyu saja, namun juga lingkungan kelautan seperti pelestarian terumbu karang, kawasan mangrove dan lainnya. Sejumlah aktivitas yang sudah rutin dilakukan ada Kemah Pemuda Pesisir dan Jambore Pesisir. Kegiatannya berkaitan dengan konservasi dan menanamkan rasa cinta terhadap lingkungan pesisir laut. “Peran Loka PSPL melakukan monitoring, memfasilitasi pelatihan dan kunjungan ke lokasi konservasi penyu lainnya, pemberian bantuan yang bisa mendorong dan membantu para pelestari penyu untuk lebih semangat melakukan eduekowisata,” kata Iwan. Disisi lain, Iwan menyayangkan masih adanya oknum-oknum yang masih melakukan perburuan penyu untuk mengambil daging, tempurung dan telur. Di KKP, kewenangan penindakan ada pada Direktorat PSDKP Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan. Sementara di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK, kewenangan penindakan terletak pada instansi BKSDA Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Seorang anak ikut serta melepasliarkan tukik di Pantai Tapak Paderi. KOMI KENDY/aa. Gerakan bersama Upaya pelestarian baik yang dilakukan Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara dan kelompok pelestari penyu lainnya, mendapat apresiasi. Dosen Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu Dewi Purnama menilai, sudah seharusnya ada gerakan bersama mencegah ancaman kepunahan penyu. “Upaya pemuda sudah bagus. Mulai banyak berdirinya komunitas pelestari penyu. Bahkan sudah ada yang memiliki izin dan bersinergi dengan pemerintah di kota dan kabupaten. Untuk di Kota Bengkulu, sudah saatnya memiliki kawasan eduekowisata pelestarian penyu,” kata Dewi. Peneliti yang meriset dampak mikroplastik serabut tipis plastik pada penyu itu mengungkapkan, kondisi habitat penyu di Bengkulu sama dengan daerah lain, yakni mengalami degradasi yang dapat dilihat dari kondisi pantai tempat bertelur penyu. Kerusakan habitat penyu kurun beberapa tahun terakhir, terjadi secara alami dan antropogenik semi alami akibat aktivitas manusia. Penyu, memiliki perilaku-perilaku khusus. Penyu akan kembali lagi ke tempat dimana ia dilepasliarkan, selama kawasannya masih memungkinkan untuk kembali menjadi tempat pendaratan. “Adanya perubahan wilayah pantai, cahaya lampu yang terang, membuat penyu enggan mendarat. Penyu akan menyisir pantai lainnya yang lebih sunyi dan nyaman untuk bertelur,” jelas Dewi. Terkait jumlah populasi penyu di Bengkulu, Dewi menyatakan hingga kini belum ada penelitian yang menghitung berapa banyak jumlah penyu di lautan. Namun beberapa komunitas seperti Lestari Alam Laut untuk Negeri Latun, sudah mulai mendata penyu melalui sistem tagging yang dipasang pada penyu yang sempat mendarat. Menurut Dewi, ada empat jenis penyu di perairan Bengkulu. Penyu hijau Chelonia mydas habitatnya di sepanjang Pantai Bengkulu dari Mukomuko-Kaur dan Pulau Enggano. Penyu lekang Lepidochelys olivacea di kawasan Pulau Tikus, penyu sisik Eretmochelys imbricate dan belimbing Dermochelys coriacea di Retak Ilir Mukomuko dan Nasal Kaur. Keberadaan empat jenis penyu ini dalam kondisi terancam. Ancaman penyu yang menjadi isu global adalah persoalan penyu mati lalu di perutnya ditemukan sampah. Sudah menjadi sifat alami penyu tidak bisa membedakan mana makanannya dengan sampah. Ancaman lainnya tertangkap alat nelayan, perubahan kondisi lingkungan iklim secara global di Samudera Hindia, perburuan daging, telur dan cangkang. “Sangat perlu meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa penuh akan punah dan ketegasan untuk menindak penjual telur dan pemburu penyu,” tegas Dewi. Dengan adanya sinergi lintas generasi serta pemahaman yang mendalam oleh berbagai kalangan masyarakat, maka ke depannya juga akan bermanfaat untuk mencegah beragam jenis penyu agar tidak jatuh ke jurang kepunahan. * Komi Kendy adalah salah satu pemenang Journalist FELLOWSEA Kerja sama Lembaga Pendidikan ANTARA-Yayasan ECONUSA untuk isu laut Melepas tukik di Pantai Tapak Paderi sudah menjadi agenda rutin Latun bersama komunitas, instansi dan lembaga lain. KOMI KENDY/aa. Editor Faisal Yunianto COPYRIGHT © ANTARA 2020
3 Komunitas Pelestari Penyu Kabupaten Aceh Besar. Mongabay Indonesia memberikan gambaran terkait upaya konservasi penyu yang dilakukan oleh Komunitas Pelestari Penyu di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Hal yang dilakukan yakni merelokasi telur penyu ke tempat khusus untuk ditetaskan yang selanjutnya penyu kecil atau tukik dilepas ke
Penyu lekang dan penyu belimbing merupakan jenis penyu yang sering bertelur di wilayah pantai Provinsi Aceh. Telur penyu, nyatanya masih diburu sekelompok masyarakat untuk dijual dikarenakan harganya yang tinggi, selain tentunya untuk dikonsumsi. Muniardi beserta rekannya di Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, berusaha melindungi telur penyu dari perburuan. Mereka memindahkan telur ke tempat lebih aman yang setelah menetas, tukik akan dilepaskan ke laut. Masyarakat di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, juga membentuk komunitas pelestarian penyu dengan merelokasi telur ke tempat khusus untuk ditetaskan. Namun, upaya ini masih berhadapan dengan masyarakat yang masih memburu telur untuk dikonsumsi dan dijual. Penyu lekang dan penyu belimbing merupakan jenis penyu yang sering bertelur di wilayah pantai Provinsi Aceh. Namun, telur-telur tersebut diburu oleh sekelompok masyarakat untuk dijual dikarenakan harganya yang tinggi, selain tentunya untuk dikonsumsi. Muniardi bersama sejumlah rekannya pun khawatir dengan kondisi tersebut. Ini dikarenakan, lelaki kelahiran tahun 1971 tersebut memang rutin memantau sarang penyu. “Saya melihat sendiri, jumlah sarang penyu yang ditemukan di Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh. Salah satu penyebab, karena telurnya terus diburu sehingga tidak ada kesempatan menetas.” Jual beli telur penyu mulai terasa setelah tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 meluluhlantakkan Aceh. Sebelumnya, masyarakat di Kabupaten Aceh Jaya, hanya mengambil terbatas untuk dikonsumsi. Sebagian besar, telur yang ada di sarang dibiarkan hingga menetas. “Nenek moyang kami dulu tidak serakah, mereka berpikir panjang,” ujarnya, awal Januari 2021. Gelisah dengan kondisi tersebut, Muniardi mengajak para pemuda di desanya untuk menyelamatkan telur-telur penyu. “Kami membentuk komunitas masyarakat yang bekerja swadaya, menyelamatkan telur penyu dari pemburu. Termasuk dari predator alaminya sejak 2012.” Baca Perburuan Telur Mengancam Kelestarian Penyu di Aceh Pelepasan tukik diharapkan menambah populasi penyu. Foto Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Muniardi semakin antusias bekerja menyelamatkan penyu dari perburuan telur setelah mendapat dukungan dari Bupati Aceh Jaya dan lembaga pemerintah lainnya, termasuk dari lembaga adat di Kecamatan Panga. Bupati Aceh Jaya pada 8 September 2015 mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 378 Tahun 2015 tentang tim pengelola kawasan konservasi penyu Aroen Meubanja, Kecamatan Panga. Dilengkapi Akta Notaris Lembaga Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja Nomor 1 Tahun 2017, tanggal 16 Februari 2017. “Lalu Qanun Mukim Panga Pasi, Kecamatan Panga Nomor 1 Tahun 2016 tentang perlindungan penyu dan habitatnya di Kemukiman Panga Pasi Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya. Kegiatan kami juga didukung Surat Keputusan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh Nomor tentang Tim Pengelola Kawasan Konservasi Penyu Aroen Meubanja Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya,” ujarnya. Baca Bangkaru, Satu-satunya Pulau Konservasi Penyu di Aceh Bangkaru merupakan satu-satunya pulau konservasi penyu di Aceh. Foto Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Pihak lain juga mendukung pelestarian ini. Leuser Coffee misalnya, mereka telah dua kali menjual kopi yang 50 persen hasil penjualannya diberikan untuk pelestarian penyu di Kecamatan Panga. Menurut Muniardi, kegiatan yang mereka lakukan adalah memberikan pemahaman pentingnya penyu di lautan. Mereka juga melakukan patroli di pantai Keude Panga, Kuta Tuha, dan Alue Pit, Kecamatan Panga, agar telur penyu tidak diambil pemburu. “Telur penyu yang kami temukan kami pindahkan ke tempat penetasan yang telah disediakan. Setelah menetas, tukik atau anak penyu kami lepaskan ke laut.” Baca Telur Penyu di Pulau Bangkaru Itu Terus Diburu Penyu ini terpantau malam hari di pantai di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Foto Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Namun, usaha Muniardi dan 11 rekannya itu tidak mudah. Hingga saat ini, pemburu masih mencari telur penyu, karena alasan faktor ekonomi. Paling repot, menurut dia adalah, menghadapi orang yang hobi mencari telur penyu untuk dikonsumsi. “Untuk kasus ini, kami ajak kerja sama. Bila mereka tidak mau, kami tebus telur-telur itu dengan uang. Tapi kadang, justru uang mereka lebih banyak dari kami.” Baca Nelayan Aceh Pemerintah Harus Tegas pada Kapal Asing Pencuri Ikan Inilah telur-telur penyu yang masih diburu masyarakat di Aceh, untuk dikonsumsi dan dijual. Foto Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Komunitas pelestari penyu Masyarakat di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, juga membentuk komunitas pelestarian penyu dengan merelokasi telur ke tempat khusus untuk ditetaskan. Selanjutnya, tukik dikembalikan ke habitatnya. Namun, upaya komunitas ini berhadapan dengan sejumlah masyarakat lain yang gemar berburu telur penyu untuk dikonsumsi, bahkan diperjualbelikan. “Masyarakat yang sadar untuk melestarikan penyu hanya beberapa orang, sementara pemburu telur lebih banyak jumlahnya,” ujar Azhar, salah seorang masyarakat Lhoknga. Azhar berharap, para penegak hukum ikut membantu kelompok peduli penyu agar perburuan telur bisa diminimalisir. “Masyarakat yang sadar penyu tentu menghindari bentrok dengan yang berburu. Terlebih, kami tinggal di daerah yang sama dan saling mengenal,” ujarnya. Anakan penyu yang siap dilepaskan ke laut. Foto Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Dosen Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Widya Sari, sebelumnya telah menjelaskan, pantai di Provinsi Aceh merupakan surga bagi penyu bertelur. “Berdasarkan informasi, semua pantai di daerah paling barat Indonesia ini merupakan sarang penyu, khususnya penyu lekang dan belimbing,” tutur Widya yang fokus pada penelitian penyu di Aceh, Senin [30/11/2020]. Masalahnya, perburuan telur juga marak, hal ini menyebabkan penyu kesulitan berkembang biak. “Bahkan masyarakat yang terlibat dalam penyelamatan telur penyu harus berhadapan dengan masyarakat yang mengambil telur untuk dikonsumsi dan dijual.” Selain itu, perkembangbiakan penyu juga terganggu karena abrasi pantai dan pembangunan infrastruktur yang tidak memperhatikan habitat penyu. “Abrasi pantai menyebabkan penyu tidak bisa menggali sarang untuk bertelur. Hal yang sama terjadi, saat dibangun tanggul pemecah ombak yang menghilangkan pantai, karena pantai hilang, penyu tidak memiliki tempat bertelur,” ucap Widya. Kepala Balai Konservasi Sumber Alam [BKSDA] Aceh, Agus Irianto juga telah mengingatkan, meskipun telur penyu berada di luar wilayah konservasi, namun tetap tidak boleh diambil, kecuali untuk kepentingan konservasi atau penyelamatan. “Ingat, yang dilindungi bukan hanya penyu, tapi juga bagian-bagiannya termasuk telur,” tegasnya. Artikel yang diterbitkan oleh
KontakKami 0 % Komunitas Peduli Penyu Lepas 100 Tukik di Pesisir Pantai Pekik Nyaring » 26 Aug, 2016. 0. 1,171 views. Komunitas peduli Penyu yang tergabung dalam Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara Desa Pekik Nyaring Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu melepas. 0 %
Jawaban Kami mempunyai komunitas pelestari penyu Jawaban. Pendahuluan. Dalam Bahasa Indonesia, kita mengenal istilah pertanyaan. Pertanyaan merupakan cara kita mengekspresikan keingintahuan akan sesuatu. Lebih lanjut, pertanyaan kita ungkapkan dalam bentuk kalimat tanya dan menggunakan kata tanya tertentu. Dengan kata-kata tanya tersebut, kita
\n \n
kami mempunyai komunitas pelestari penyu
. kzsx82tbmr.pages.dev/98 kzsx82tbmr.pages.dev/198 kzsx82tbmr.pages.dev/388 kzsx82tbmr.pages.dev/366 kzsx82tbmr.pages.dev/421 kzsx82tbmr.pages.dev/205 kzsx82tbmr.pages.dev/364 kzsx82tbmr.pages.dev/238
kami mempunyai komunitas pelestari penyu